Rabu, 23 April 2014

Pentingnya Sarapan Pagi



Pentingnya Sarapan Pagi dan Gizi Seimbang
Penulis : Aditya Dwiansyah ( SMPN 3 Tebo )


            Sesibuk apapun Anda harus dapat menyempatkan waktu untuk sarapan karena sarapan merupakan bahan bakar bagi tubuh sehingga energi tubuh akan terpenuhi sepanjang hari. Sarapan atau makan pagi adalah makanan yang disantap pada pagi hari. Waktu sarapan dimulai dari pukul 06.00 pagi sampai dengan pukul 10.00 pagi. Sarapan merupakan waktu makan yang paling penting dan sangat dianjurkan untuk dipenuhi, karena alasan kesehatan. Dianjurkan menyantap makanan yang ringan bagi kerja perncernaan, sehingga dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang memiliki kadarserat tinggi dengan protein yang cukup namun dengan kadar lemak rendah
            Bagi kebanyakan masyarakat sering menyepelekan betapa pentingnya sarapan di pagi hari, berbagai alasan sering dijumpai pada masyarakat kita, terlambat bangun yang berakibat tidak ada waktu untuk menyiapkan sarapan di pagi hari dan akhirnya kita lalai untuk melakukan asupan energi untuk mengawali aktifitas kita.  Padahal  sarapan itu penting untuk meningkatkan konsentrasi belajar dan bekerja.
            Selain menambah energi,berikut beberapa alasan alasan mengapa aktivitas sarapan itu penting dilakukan :

Meningkatkan sistem imun
            Penelitian lainnya menyatakan jika sarapan pagi mampu membuat Anda terhindar dari risiko serangan penyakit flu. Seperti yang diketahui, flu biasanya disebabkan oleh sistem kekebalan yang rendah.

Panjang umur
            Berbagai manfaat dari sarapan sudah disebutkan. Jika disimpulkan, sarapan secara tidak langsung membantu Anda untuk memperpanjang usia.

Menurunkan berat badan
            Sarapan membantu sistem metabolisme bekerja secara stabil. Sehingga pembakaran lemak akan berjalan dengan maksimal, berat badan pun mampu menurun.

Menjaga kesehatan jantung
            Banyak penelitian yang menyebutkan sarapan penting bagi kesehatan jantung. Sebab orang-orang yang terbiasa sarapan punya kadar kolesterol yang rendah, ukuran yang lebih kecil, dan kadar insulin yang stabil dalam darahnya.                                                                   
            Berbagai kajian di Indonesia menunjukkan 16,9 hingga 59 %  anak sekolah dan remaja, serta 31,2  % orang dewasa tidak terbiasa dengan sarapan. Sementara berdasarkan analisis data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2010, sebanyak 44,6 %  anak usia sekolah mengkonsumsi sarapan berkualitas rendah (di bawah 15 % kecukupan gizi harian). “Membiasakan sarapan bergizi dan tepat waktu penting dilakukan, terutama bagi anak usia sekolah. Fungsinya untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Dr. Rachmi Untoro, MPH.
            Sarapan sehat adalah sarapan yang dilakukan setiap hari sebelum pukul 9 pagi. Santapan ini juga harus memenuhi 15% - 30 %  kebutuhan gizi harian.  Apabila kebiasaan sarapan tidak ditanamkan sejak dini, maka akan berdampak buruk pada kualitas generasi penerus bangsa.
             Selain mencegah rasa lapar saat berkegiatan di sekolah, sarapan pagi terbukti bermanfaat penting bagi anak yakni anak mempunyai kemampuan daya ingat (kognitif) yang lebih baik, memiliki daya juang belajar dan konsentrasi atau perhatian yang lebih baik, mempunyai kemampuan membaca, berhitung (matematika) dan skor kemampuan sejenis (bahasa & logika) yang lebih baik, anak jarang sakit, anak memiliki stamina & disiplin yang lebih baik. Sedangkan dampak buruk tidak sarapan yaitu memarginalkan gizi dan kesehatan anak, memarginalkan stamina anak.menggagalkan penanaman kebiasaan gizi seimbang,menggagaalkan pencapaian prestasi optimal anak,pemborosan investasi pendidikan, menghambat peningkatan kualitas SDM bangsa.
            Banyak dari kalangan pelajar seperti kita yang tidak menerapkan perilaku sarapan.  Dengan jam sekolah yang padat belum lagi jika ada tambahan pelajaran atau ekstrakurikuler yang otomatis sangat menguras energi dan fisik kita. Sehingga kita pun pulang dalam keadaan loyo dan mengeluh pusing. Akibatnya sesampai di rumah kita langsung tidur sampai menjelang sore akibat kelelahan karena tidak seimbangnya gizi dan tidak ada asupan energi ketika mengawali aktivitas.  Padahal setiap hari, anak usia sekolah, terutama 7-13 tahun membutuhkan 1.800 kkal-2050 kkal, dan protein 45-50 gram untuk memenuhi gizi mereka. Sarapan pagi akan membantu meningkatkan tumbuh kembang anak dan pengembangan potensinya.
            Menurut penelitian, anak yang biasa sarapan akan mendapat prestasi lebih bagus dibandingkan anak yang tidak pernah sarapan. Selain itu, mereka lebih aktif dari pada anak yang tidak sarapan karena asupan gizi mereka terpenuhi di pagi hari untuk memulai aktifitas mereka. Oleh sebab itu, biasakanlah menyediakan menu sarapan yang sehat bagi putra putri Anda setiap pagi, karena menu tersebut sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan mereka. "Inilah yang  sering diabaikan oleh orang tua. Kurang peduli untuk memberi anaknya sarapan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah,” kata Prof. Hardinsyah.                                                        
            Menurut Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB Bogor ini, sarapan mempunyai kontribusi penting dalam total asupan harian, yaitu sebanyak 15 % - 30%. Tidak sarapan, berarti tak memenuhi gizi seimbang. “Hal itu menunjukan bahwa sarapan merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan gizi seimbang dan penting bagi hidup sehat, aktif, serta cerdas,” ungkapnya.

            Hardinsyah menambahkan dalam penelitian disebutkan bahwa 16,9 % - 59% anak sekolah, remaja dan orang dewasa Indonesia tidak sarapan. Khusus pada anak sekolah usia SD (6-12 tahun), sebanyak 44,6% yang sarapan memiliki kualitas gizi sarapan yang kualitas rendah. Ada anak-anak yang diberi sarapan, tapi menu nya ala kadar dan tidak memenuhi gizi seimbang, sehingga gizi sarapannya berkualitas rendah. Jadi, bangsa ini akan menghadapi dua kegagalan apabila anak-anaknya tidak sarapan. Pertama, kegagalan mengatasi kurang gizi dan kelebihan gizi. Kedua, kegagalan dalam pendidikan. Asupan gizi yang tidak seimbang di pagi hari karena tidak sarapan, dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, ketahanan fisik, serta kemampuan berfikir dan belajar anak sekolah menurun.
            Pada tanggal 8 Januari 2013 bertempat di gedung Krida Bakti Sekretariat Negara Republuk Indonesia Jakarta, empat organisasi gizi dan pangan di Indonesia yaitu Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan (PERGIZI PANGAN) Indonesia, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Perhimpunan Gizi Medik Indonesia (PDGMI) dan Perhimpunan Dokter Gizi Klinik (PDGKI) dengan dukungan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI)   mendeklarasikan PESAN yaitu Pekan Sarapan Nasional setiap tanggal 14-20 Februari.
            Dengan diadakannya deklarasi PESAN ini diharapakan agar bisa menghimbau seluruh masyarakat untuk membiasakan diri sarapan sehat dan gizi seimbang setiap hari dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat, cerdas dan produktif.
Dalam penyusunan menu sarapan pagi, perlu diperhatikan kelengkapan zat gizi yang dikandungnya terutama hidrat arang, protein, lemak, vitamin, mineral, dan juga serat tidak boleh ketinggalan.
a.     Hidrat arang sangat penting karena merupakan sumber utama gula darah. Setelah hidrat arang dicerna oleh tubuh, dengan cepat kadar gula darah akan naik. Sayangnya tidak lama, hanya bisa bertahan sekitar 2 jam saja.
b.     Hanya sekitar 50% protein yang diubah menjadi gula darah, tidak semuanya. Protein menjadi gula darah melalui proses yang lebih kompleks dan membutuhkan waktu lebih lama. Tetapi gula darah yang berasal dari protein, bisa bertahan lebih lama, sampai 4 jam. Itulah sebabnya, mengapa sarapan pagi perlu dilengkapi dengan protein yang cukup, agar rasa kenyang dapat bertahan lebih lama.
c.     Lemak juga penting, selain sebagai sumber energi, lemak juga merupakan sumber asam lemak essensial, yaitu linoleat, linolenat, dan arakidonat. Asam-asam lemak essensial ini sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak. Lemak nabati pada umumnya lebih banyak mengandung asam lemak essensial dari pada lemak hewani, kecuali yang berasal dari kelapa. Minyak yang lebih baik dipakai untuk membuat hidangan antara lain minyak jagung, minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan sebagainya.
d.   Vitamin dan mineral sangat penting untuk membantu kelangsungan pertumbuhan anak-anak. Oleh karena itu, jangan lupa berikan buah-buahan dan sayuran. Selain itu buah-buahan dan sayuran juga mengandung serat yang tidak kalah penting. Serat dapat memberikan rasa kenyang dan juga dapat mempermudah buang air besar.

Dengan demikian sarapan pagi itu memang penting, harus lengkap dan tidak asal-asalan. Tetaplah berpegang pada pola gizi seimbang, dengan takaran hidrat arang sekitar 60-70%, protein 10-15%, dan lemak 20-30% dari total kalori hidangan sarapan pagi.     
                                                                                                                           Tips menu sarapan pagi:  
a.    Perkenalkan variasi menu sarapan pagi sedini mungkin, supaya tidak membosankan dan untuk mendidik anak agar kelak sudah dewasa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan menu apa saja yang dihidangkan.
b.    Tatalah hidangan sarapan pagi anak seharmonis mungkin. Atur variasi warna, rasa serta porsinya sesuai dengan selera dan kondisi anak, sehingga hidangan tersebut dapat menggugah nafsu makannya.
c.    Dengan memberikan variasi menu sarapan pagi anak, dan memilih pola hidangan sesuai dengan gizi seimbang, diharapkan anak lebih bergairah untuk menyantap hidangan sarapan pagi.
     
            Para ahli gizi di AS menyarankan untuk membuat makanan yang sederhana dan praktis namun sehat untuk dikonsumsi buat sarapan pagi. Berikut beberapa contoh makanan yang bisa dicoba :
1. Sereal dengan susu ditambah buah segar.
2. Setangkap roti dengan selai kacang dan margarin ditambah yoghurt instant atau buah   segar.
3. Anda bisa membeli pizza malam sebelumnya sehingga esok paginya tinggal dipanaskan saja. Beri anak Anda sepotong pizza ditambah buah.
4. Setangkap roti dengan selembar keju, selada dan saus tomat. Sertakan dengan segelas yoghurt instant.
            Pastikan Anda sudah kenyang saat sarapan sehingga  bersemangat menjalani aktivitas. Dampak buruk tidak sarapan terhadap kemampuan berfikir, kemampuan fisik dan masalah kekurangan atau kelebihan gizi sudah seharusnya kita fahami tentang hal tersebut.  Dari segudang manfaat sarapan pagi, masihkah Anda mengabaikannya? Aktivitas sehari-hari  bisa terganggu karena pola hidup yang tidak sehat, apakah kita akan terus membiarkan bila hal ini terjadi pada kita? Kesehatan tentu sangat mahal harganya, sedia payung sebelum hujan artinya kita harus membiasakan sejak dini untuk  pola hidup sehat dan gizi seimbang. Dengan demikian kekurangan gizi akibat tidak sarapan pagi dapat dicegah.
Terima Kasih.

Selasa, 08 April 2014

10 Cara Menulis Artikel Yang Baik

10 Cara Menulis Artikel Yang Baik
By ADIDES 230712
 

Kemampuan menulis artikel yang baik sangat diperlukan dalam berbagai bidang, terutama apabila anda bekerja sebagai jurnalis, sastrawan, ataupun internet marketer.  Memang untuk membuat tulisan yang menarik sekaligus bermanfaat memerlukan banyak latihan dan usaha.  Selain itu, anda juga harus memperhatikan pula beberapa kaidah atau aturan yang bisa membuat artikel yang anda tulis terlihat profesional dan enak dibaca.  Nah, berikut ini kami beri tips menarik tentang 10 cara menulis artikel yang baik  :


1.  Bahasa yang mudah dipahami

Salah satu ciri artikel yang baik adalah penggunaan bahasa yang mudah dipahami.  Jangan membuat artikel dengan bahasa yang berbelit-belit, dengan berbagai istilah ilmiah dan asing yang membuat pembaca anda merasa bingung.  Pergunakanlah bahasa yang banyak digunakan sehari-hari dalam percakapan Bahasa Indonesia.

Bahasa yang mudah dipahami akan membuat pembaca merasa betah menikmati artikel anda.  Gunakanlah kalimat-kalimat pendek dengan makna sejelas mungkin.  Tidak perlu untuk mencoba terlihat pintar dengan menggunakan berbagai istilah sulit.

2.  Tata bahasa yang formal dan baka

Walaupun bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami, anda juga tetap harus ingat untuk menggunakan bahasa yang baku.  Artinya, gunakanlah kata-kata formal yang terdapat dalam kamus.  Jangan sekalipun menyingkat kata, misalkan kata "yang" menjadi "yg", "dan" menjadi "dn", "atau" menjadi "atw", dan sebagainya.

Jika anda menggunakan bahasa yang baku, artikel yang anda tulis pasti terkesan lebih profesional.  Tidak hanya itu, search engine seperti Google juga akan lebih mudah menemukan artikel anda.  Akibatnya, artikel tersebut akan dibaca lebih banyak orang dan lebih mudah menjadi populer.

3.  Pemilihan judul yang menarik dan memancing pembaca

Perhatikanlah berbagai artikel yang dimuat dalam website "Kompas" atau "Detik".  Pasti artikel-artikel di website tersebut memiliki judul yang sangat menarik dan mengundang pembaca untuk mengunjunginya.  Pemilihan judul yang menarik mutlak diperlukan, terutama jika anda menulis untuk tujuan mendapatkan uang dari blog.

Kombinasikanlah juga judul yang anda tulis dengan kata kunci yang populer di Google.  Dengan melakukan hal ini, selain artikel menjadi lebih berkualitas, anda pun akan lebih mudah dalam mendapatkan pembaca.  Dampak jangka panjangnya, artikel anda bisa menjadi lebih terkenal.  Tips untuk memilih judul yang baik ini juga sangat berguna untuk meningkatkan Page Rank website/ blog anda.

4.  Penulisan kata dan tanda baca yang benar

Pastikanlah untuk menulis artikel dengan ejaan yang benar.  Terutama dalam menuliskan nama, cek ulang apakah anda sudah menuliskannya dengan benar.  Pastikan juga anda menggunakan tanda baca yang benar, seperti penggunaan titik, koma, tanda petik, tanda seru, dan lain sebagainya.  Artikel yang ditulis dengan banyak kesalahan ejaan akan terkesan sangat tidak profesional dan membuat pengunjung tidak betah membacanya.

Satu tips dari kami, pastikan untuk mengecek ulang setiap artikel yang sudah selesai anda tulis.  Baca lagi dari awal sampai akhir, periksa apakah ada kesalahan dalam ejaan maupun penulisan.

5.  Kreatif

Cobalah untuk membuat artikel dengan menggunakan imajinasi anda.  Tengoklah topik utama anda dari sisi yang berbeda, sehingga para pembaca nantinya akan mendapatkan sudut pandang yang kreatif.  Tulis artikel yang walaupun topiknya sudah banyak dibahas, namun masih segar dan fresh.  Cobalah untuk mencari celah-celah suatu tema yang kira-kira belum banyak ditulis oleh orang lain.

Kreativitas memiliki peran yang sangat penting dalam menulis artikel yang baik.  Hal ini membuat tulisan anda terasa berbeda ketika dibaca, dan tentu saja para pembaca akan penasaran dan ingin melihat lebih banyak lagi karya-karya sang penulis.  Bacalah kolom-kolom yang ditulis Cak Nun, Butet Kertaradjasa, atau Prie G.S. di berbagai surat kabar untuk menemukan definisi yang tepat dari kata "kreatif".

6.  Referensi yang valid

Saat menulis artikel, mengaculah pada sumber-sumber yang terpercaya.  Contoh, jika anda menulis artikel tentang kesehatan, pastikan sebelumnya anda sudah melakukan riset di berbagai majalah kedokteran atau artikel yang ditulis oleh ahli kesehatan.  Jangan sampai artikel yang anda tulis akhirnya justru menyesatkan para pembaca.

Jika perlu, cantumkanlah juga referensi artikel yang anda gunakan untuk membuat pembaca menjadi lebih yakin.  Jika artikel anda berupa opini, jangan lupa pula untuk menyertakan sumber-sumber fakta yang bisa menunjang opini anda.  Pastikan juga untuk tidak mengkopi mentah-mentah artikel dari sumber yang anda gunakan.

7.  Bermanfaat dan faktual

Artikel anda akan dinilai baik dan lebih cepat populer apabila bermanfaat bagi orang lain.  Artikel yang bermanfaat tidak harus berupa artikel tips, trik, ataupun tutorial.  Artikel bermanfaat adalah artikel yang bisa memberikan informasi valid kepada para pembaca, atau yang membuat mereka merasa terhibur ketika membaca tulisan tersebut.

Artikel yang bermanfaat tidak hanya membuat para pembaca menyukai anda.  Akan banyak pula nantinya penulis-penulis lain yang menggunakan artikel tersebut sebagai bahan referensi tulisan mereka.  Pada akhirnya, artikel yang anda buat akan menjadi sangat populer.
8.  Anda memiliki passion dan keahlian yang berhubungan dengan artikel yang anda tulis

Untuk membuat artikel yang bermanfaat dan menghibur, akan lebih mudah apabila anda memiliki passion (ketertarikan) dan keahlian yang berhubungan dengan topik yang anda tulis.  Misalkan anda dikenal suka membaca buku Harry Potter, maka jika anda menulis artikel tentang review novel Harry Potter, artikel itu akan terasa lebih hidup.  Selain itu, proses menulis juga akan terasa lebih menyenangkan bagi anda.

Jika anda memiliki keahlian dan pengalaman yang berkaitan dengan topik tulisan, orang akan lebih yakin ketika membacanya.  Terutama jika artikel tersebut berupa tips, trik, dan tutorial.  Contohnya adalah artikel tentang tips berlibur ke suatu tempat, atau tips memasak masakan tertentu.

9.  Format dan bentuk fisik artikel

Format dan bentuk fisik artikel juga memegang peranan penting dalam menentukan baik buruknya suatu artikel.  Jika anda menulis untuk surat kabar, pasti sudah ditentukan jenis huruf yang harus dipilih, ukuran huruf,. serta spasi paragraf yang diperlukan.  Hal ini berguna untuk membuat pembaca merasa nyaman dan tidak cepat lelah ketika membaca artikel anda.

Jika anda memiliki blog dan website pribadi, pastikan desain artikel anda mudah dibaca.  Pilih warna yang kontras, antara background website dan warna huruf.  Pilih bentuk huruf yang mudah dibaca, dan highlight bagian-bagian yang sekiranya penting bagi para pembaca.

10.  Original, karya anda sendiri

Artikel yang baik adalah artikel original asli dari buah pikiran sang penulis.  Tidak ada salahnya apabila anda melakukan riset dan mengambil berbagai referensi dari sumber-sumber lain.  Namun ingat, jangan sampai anda mengcopy mentah-mentah, sama persis, artikel-artikel tulisan orang lain dan mengakuinya sebagai karya anda.  Selain melanggar etika, hal ini juga pasti nantinya berdampak buruk bagi popularitas website/ blog anda di mata search engine.

  Selain original, artikel anda juga harus ditunjang dengan konten yang berkualitas serta bermanfaat bagi pembaca.

Sekiaaaaaaaan....

Jumat, 28 Maret 2014

Makalah Tentang Menumbukan Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran


       Menumbukan Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran 

By ADIDES 230712
A. Pendahuluan
Suatu kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan minat akan menghasilkan prestasi yang kurang menyenangkan. Dapat dikatakan bahwa dengan terpenuhinya minat seseorang akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan batin yang dapat menimbulkan motivasi. S.C. Utami Munandar (1985:11) menyatakan bahwa minat dapat juga menjadi kekuatan motivasi. Prestasi seseorang selalu dipengaruhi macam dan intensitas minatnya. Minat menimbulkan kepuasan. Seorang anak cenderung untuk mengulang-ulang tindakan-tindakan yang didasari oleh minat dan minat ini dapat bertahan selama hidupnya.

Dengan demikian, minat belajar merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan belajar siswa. Disamping itu minat belajar juga dapat mendukung dan mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah. Namun dalam prakteknya tidak sedikit guru Seni Budaya (Kesenian) menemukan kendala di dalam kelas, karena kurangnya minat siswa dalam pembelajaran Seni Budaya khususnya seni rupa. Jika hal ini terjadi, maka proses belajar mengajar pun akan mengalami hambatan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan pengalaman penulis, pada saat pembelajaran berlangsung siswa kurang bergairah dalam mengikuti pelajaran. Hanya sebagian kecil saja siswa yang bisa memahami dan mengerjakan tugas dengan semangat. Sebagian besar siswa mengerjakan tugas yang diberikan dengan perasaan terpaksa atau takut. Hal ini menyebabkan tugas yang diberikan hasilnya kurang memuaskan sehingga terkesan asal jadi. Jika mereka ditanya, alasannya mereka tidak mempunyai bakat di bidang seni atau tidak punya bakat menggambar. Dengan kondisi seperti ini, guru perlu mencari upaya bagaimana menumbuhkan minat belajar siswa terutama dalam pembelajaran Seni Rupa.

B. Konsep Minat Belajar

Pengertian minat
Minat sering dihubungkan dengan keinginan atau ketertarikan terhadap sesuatu yang datang dari dalam diri seseorang tanpa ada paksaan dari luar. The Liang Gie (1994:28) mengungkapkan bahwa minat berarti sibuk, tertarik, atau terlibat sepenuhnya dengan suatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Menurut Slameto (dalam Djaali 2006:121) minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Sedangkan menurut Crow and Crow (dalam Djaali 2006:121) mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.

Pengertian Belajar
Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang belajar, pada umumnya mereka memberikan penekanan pada unsur perubahan dan pengalaman. Menurut Witherington (dalam Sukmadinata 2007:155) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan. Crow and Crow (dalam Sukmadinata 2007:155) mengemukakan bahwa belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Sedangkan menurut Hilgar (1962:252) menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses di mana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap sesuatu situasi.

Berdasarkan penekanan unsur pengalaman tentang definisi belajar dikemukakan para ahli, antara lain menurut Di Vesta and Thompson (1970:112) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Gage and Berliner (1970:256) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang muncul karena pengalaman. Sedangkan menurut Hilgard (1983:630), mengemukakan bahwa belajar dapat dirumuskan sebagai perubahan perilaku yang brelatif permanen yang terjadi karena pengalaman.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar
Minat belajar peserta didik sangat menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut bersumber pada dirinya dan luar dirinya atau lingkungannya antara lain sebagai berikut :

Faktor dalam diri siswa, yang terdiri dari :
  1. Aspek jasmaniah, mencakup kondisi fisik atau kesehatan jasmani dari individu siswa. Kondisi fisik yang prima sangat mendukung keberhasilan belajar dan dapat mempengaruhi minat belajar. Namun jika terjadi gangguan kesehatan pada fisik terutama indera penglihatan dan pendengaran, otomatis dapat menyebabkan berkurangnya minat belajar pada dirinya. (Kumpulan Tugas Sekolahku)
  2. Aspek Psikologis (kejiwaan), menurut Sardiman (1994:44) faktor psikologis meliputi perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat,dan motif. Pada pembahasan berikut tidak semua faktor psikologis yang dibahas, tetapi hanya sebagian saja yang sangat berhubungan dengan minat belajar. 
Faktor dari luar siswa, meliputi:
  1. Keluarga, meliputi hubungan antar keluarga, suasana lingkungan rumah, dan keadaan ekonomi keluarga. 
  2. Sekolah, meliputi metode mengajar, kurikulum, sarana dan prasarana belajar, sumber-sumber belajar, media pembelajaran, hubungan siswa dengan temannya, guru-gurunya dan staf sekolahserta berbagai kegiatan kokurikuler. 
  3. Lingkungan masyarakat, meliputi hubungan dengan teman bergaul, kegiatan dalam masyarakat, dan lingkungan tempat tinggal. 
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa faktor-faktor dari diri siswa dan dar luar siswa saling berkaitan dalam menumbuhkan minat belajar. Jika faktor-faktor tersebut tidak mendukung mengakibatkan kurang atau hilangnya minat belajar siswa. Kurang atau hilangnya minat belajar siswa disebabkan oleh banyak hal yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Menurut JT. Loekmono (1985:97), faktor-faktor yang menyebabkan kurang atau hilangnya minat belajar sisbwa adalah sebagai berikut :

D. Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan minat belajar
Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada. Menurut Tanner and Tanner (1975) menyarankan agar para pengajar berusaha membentuk minat-minat baru pada siswa. Hal ini bisa dicapai melalui jalan memberi informasi pada siswa tentang bahan yang akan dismpaikan dengan menghubungkan bahan pelajaran yang lalu, kemudian diuraikan kegunaannya di masa yang akan datang. Roijakters (1980) berpendapat bahwa hal ini biasa dicapai dengan cara menghubungkan bahan pelajaran dengan berita-berita yang sensasional, yang sudah diketahui siswa.

Harry Kitson (dalam The Liang gie 1995:130) mengemukakan bahwa ada dua kaidah tentang minat (the laws of interest), yang berbunyi :
Untuk menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, usahakan memperoleh keterangan tentang hal itu
Untuk menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, lakukan kegiatan yang menyangkut hal itu.

Minat belajar akan tumbuh apabila kita berusaha mencari berbagai keterangan selengkap mungkin mengenai mata pelajaran itu, umpamanya arti penting atau pesonanya dan segi-segi lainnya yang mungkin menarik. Keterangan itu dapat diperoleh dari buku pegangan. ensiklopedi, guru dan siswa senior yang tertarik atau berminat pada mata pelajaran itu. Disamping itu perlu dilakukan kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran itu, misalanya pada mata pelajaran seni rupa usahakan mengikuti apa yang harus dilakukan apakah dengan menggambar atau melukis. Dengan langkah-langkah itu minat siswa terhadap mata pelajaran itu akan tumbuh.

JT. Loekmono (1985:98), mengemukakan bahwa cara-cara untuk menumbuhkan minat belajar pada diri siswa adalah sebagai berikut :
  • Periksalah kondisi jasmani anak, untuk mengetahui apakah segi ini yang menjadi sebab. 
  • Gunakan metode yang bervariasi dan media pembelajaran yang menarik sehingga dapat merangsang anak untuk belajar 
  • Menolong anak memperoleh kondisi kesehatan mental yang lebih baik. 
  • Cek pada orang atau guru-guru lain , apakah sikap dan tingkah laku tersebut hanya terdapat pada pelajaran saudara atau juga ditunjukkan di kelas lain ketika diajar oleh guru-guru lain. 
  • Mungkin lingkungan rumah anak kurang mementingkan sekolah dan belajar. Dalam hal ini orang-orang di rumah perlu diyakinkan akan pentingnya belajar bagi anak. (Kumpulan Tugas Sekolahku)
  • Cobalah menemukan sesuatu hal yang dapat menarik perhatian anak, atau tergerak minatnya. Apabila minatnya tergerak, maka minat tersebut dapat dialihkan kepada kegiatan-kegiatan lain di sekolah. 
Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan dapat dipahami bahwa banyak sekali faktor yang dapat menumbuhkan atau membangkitkan minat belajar bagi siswa. Tinggal bagaimana upaya yang harus kita lakukan sebagai seorang guru dalam memecahkan masalah ini, sehingga siswa terbantu untuk menemukan minatnya dalam mengikuti pembelajaran. Siswa yang memiliki karakter yang berbeda-beda memerlukan penanganan yang berbeda pula, termasuk dalam hal menumbuhkan minat belajarnya. Dengan adanya upaya dari guru dan pihak lain dalam menumbuhkan minat belajar bagi siswa, diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang akhirnya tertuju pada keberhasilan belajar siswa.

Penutup
Minat belajar merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Untuk menumbuhkan minat belajar pada diri siswa, terlebih dahulu kita harus memperhatikan apa yang menjadi latar belakang yang menyebabkan berkurang atau bahkan hilangnya minat belajar. Setelah itu baru kita mengambil langkah-langkah apa yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan minat belajar pada diri siswa. Dengan demikian upaya untuk menumbuhkan minat belajar sesuai dengan sasarannya.

Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat kita tarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan upaya menumbuhkan minat belajar pada peserta didik. Pertama, pahami dan kenali terlebih dahulu kondisi fisik dan psikologis siswa. Kedua, gunakan teknik dan metode yang bervariasi dalam penyajian materi pembelajaran. Ketiga, penggunaan media pembelajaran hendaknya dapat merangsang siswa untuk tertarik ikuti serta dalam pembelajaran. Keempat, pahami kondisi lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah sehingga kita dapat mencari jalan keluar dalam menumbuhkan minat belajar siswa.

Rujukan
Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Munandar, S.C. Utami. 1985. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah: Petunjuk bagi Para Guru dan Orang Tua. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sardiman, AM.1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar: Pedoman bagi Guru dan Calon Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Djaali, H. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Gie, The Liang. 1995. Cara Belajar yang Efisien. Yogyakarta: Liberty.
Loekmono,JT. 1985. Bimbingan bagi Anak Remaja yang bermasalah. Jakarta: CV. Rajawali.

Contoh Makalah Tentang Dampak Globalisasi Terhadap Pendidikan

                              Dampak Globalisasi Terhadap Pendidikan
By ADIDES 230712

    BAB I
    PENDAHULUAN
     
    1.1 Latar Belakang
    Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, dan terutama pada bidang pendidikan. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat dihindari kehadirannya, terutama dalam bidang pendidikan.
    Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Banyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri.
    `           Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belum dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Sebagai contoh untuk dapat menikmati program kelas Internasional di perguruan tinggi terkemuka di tanah air diperlukan dana lebih dari 50 juta. Alhasil hal tersebut hanya dapat dinikmati golongan kelas atas yang mapan. Dengan kata lain yang maju semakin maju, dan golongan yang terpinggirkan akan semakin terpinggirkan dan tenggelam dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang dapat menyeret mereka dalam jurang kemiskinan. Masyarakat kelas atas menyekolahkan anaknya di sekolah – sekolah mewah di saat masyarakat golongan ekonomi lemah harus bersusah payah bahkan untuk sekedar menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ketimpangan ini dapat memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi konflik sosial. Peningkatan kualitas pendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak sosial dalam masyarakat akibat ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan tidak diredam dari sekarang.
    
    1.2  Rumusan Masalah
    Secara umum, rumusan masalah  pada makalah “Dampak Globalisasi Terhadap Pendidikan” ini dapat dirumuskan seperti pada pertanyaan berikut.
    a.        Apa dampak dari globalisasi untuk  dunia pendidikan?
    b.      Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi?
    c.       Cara penyesuan pendidikan di Indonesia pada era globalisasi?
    
    1.3  Tujuan
    1.      Bagi Penulis
    Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen dalam mata kuliah pengantar pendidikan. Selain itu, bagi diri kami pribadi makalah ini juga diharapkan bisa digunakan untuk menambah pengetahuan yang lebih bagi mahasiswa, baik dalam lingkup universitas negeri malang maupun di civitas akademika yang lain.
    2.     Bagi Pembaca
    Makalah ini dimaksudkan untuk membahas dampak globalisasi terhadap dunia pendidikan dan menambah ilmu pengetahuan mengenai globalisasi. Para pembaca yang dominan dari kaula mahasiswa bisa digunakan untuk langkah menuju ke pengetahuan yang lebih luas, sehingga kedepannya tercipta sdm-sdm yang unggul.
  
    
    BAB II
    PEMBAHASAN
    
    
    2.1  Pengaruh  Globalisasi terhadap dunia Pendidikan
          Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.
          Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak SDM yang berkualitas dan bermoral yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi, menimbulkan
    Dampak positif dan negatif dari dari pengaruh globalisasi dalam pendidikan dijelaskan dalam poin-poin berikut:
    
    1.      Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
    
    Pengajaran Interaktif Multimedia
                Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan computer. Apabila dulu, guru menulis dengan sebatang kapur, sesekali membuat gambar sederhana atau menggunakan suara-suara dan sarana sederhana lainnya untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi. Sekarang sudah ada computer. Sehingga tulisan, film, suara, music, gambar hidup, dapat digabungkan menjadi suatu proses komunikasi.
                Dalam fenomena balon atau pegas, dapat terlihat bahwa daya itu dapat mengubah bentuk sebuah objek. Dulu, ketika seorang guru berbicara tentang bagaimana daya dapat mengubah bentuk sebuah objek tanpa bantuan multimedia, para siswa mungkin tidak langsung menangkapnya. Sang guru tentu akan menjelaskan dengan contoh-contoh, tetapi mendengar tak seefektif melihat. Levie dan Levie (1975) dalam Arsyad (2005) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus kata, visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dengan konsep.
    Perubahan Corak Pendidikan
                Mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemen, UU Sisdiknas, dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi desentralistis. Sekolah-sekolah atau satuan pendidikan berhak mengatur kurikulumnya sendiri yang dianggap sesuai dengan karakteristik sekolahnya. Kemudahan Dalam Mengakses Informasi Dalam dunia pendidikan, teknologi hasil dari melambungnya globalisasi seperti internet dapat membantu siswa untuk mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan serta sharing riset antarsiswa terutama dengan mereka yang berjuauhan tempat tinggalnya.
                Pembelajaran Berorientasikan Kepada Siswa Dulu, kurikulum terutama didasarkan pada tingkat kemajuan sang guru. Tetapi sekarang, kurikulum didasarkan pada tingkat kemajuan siswa. KBK yang dicanangkan pemerintah tahun 2004 merupakan langkah awal pemerintah dalam mengikutsertakan secara aktif siswa terhadap pelajaran di kelas yang kemudian disusul dengan KTSP yang didasarkan pada tingkat satuan pendidikan. Di dalam kelas, siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar-mengajar. Dulu, hanya guru yang memegang otoritas kelas. Berpidato di depan kelas. Sedangkan siswa hanya mendngarkan dan mencatat. Tetapi sekarang siswa berhak mengungkapkan ide-idenya melalui presentasi. Disamping itu, siswa tidak hanya bisa menghafal tetapi juga mampu menemukan konsep-konsep, dan fakta sendiri.
     2. Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
    
    Komersialisasi Pendidikan
                Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan. Salah satu ciri utamanya ialah semangat menguji murid ala Victoria yang bisa menyenangkan Mr. Gradgrind dalam karya Dickens. Perusahaan-perusahaan ini harus membuktikan bahwa mereka memberikan hasil, bukan hanya bagi murid, tapi juga pemegang saham.(John Micklethwait, 2007:166). .
    
    Bahaya Dunia Maya
    Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet. Contohnya, 6 Oktober 2009 lalu diberitakan salah seorang siswi SMA di Jawa Timur pergi meninggalkan sekolah demi menemui seorang lelaki yang dia kenal melalui situs pertemanan “facebook”. Hal ini sangat berbahaya pada proses belajar mengajar.
    Ketergantungan
                Mesin-mesin penggerak globalisasi seperti computer dan internet dapat menyebabkan kecanduan pada diri siswa ataupun guru. Sehingga guru ataupun siswa terkesan tak bersemangat dalam proses belajar mengajar tanpa bantuan alat-alat tersebut.
    
    
    2.2 Keadaan Buruk Pendidikan di Indonesia
    2.2.1 Paradigma Pendidikan Nasional yang Sekular-Materialistik
                Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan, dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang berkepribadian sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan,
sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institusi agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejurusan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan seluruh aspek.
            Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai ilmu agama dan kepribadiannya pun bagus, tetapi buta dari segi sains dan teknologi. Sehingga, sektor-sektor modern diisi orang-orang awam. Sedang yang mengerti agama membuat dunianya sendiri, karena tidak mampu terjun ke sektor modern.
2.2.2 Mahalnya Biaya Pendidikan
            Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalangan masyarakat. Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan yang bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), dimana di Indonesia dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, komite sekolah yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segala pungutan disodorkan kepada wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namun dalam penggunaan dana, tidak transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah.
            Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melempar tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas.
            Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sector yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).
            Koordinator LSM Education network foa Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersalialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara kaya dan miskin.
            Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut.
Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade).
Tesis akhirnya, bila sekolah selalu mengadakan drama tahun ajaran masuk sekolah dengan bentuk pendidikan diskriminatif sedemikian itu, pendidikan justru tidak bisa mencerdaskan bangsa. Ia diperalat untuk mengeruk habis uang rakyat demi kepentingan pribadi maupun golongan.
2.2.3 Kualitas SDM yang Rendah
            Akibat paradigma pendidikan nasional yang sekular-materialistik, kualitas kepribadian anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Dari sisi keahlian pun sangat jauh jika dibandingkan dengan Negara lain. Jika dibandingkan dengan India, sebuah Negara dengan segudang masalah (kemiskinan, kurang gizi, pendidikan yang rendah), ternyata kualitas SDM Indonesia sangat jauh tertinggal. India dapat menghasilkan kualitas SDM yang mencengangkan. Jika Indonesia masih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak terdidik yang dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi di pasar Internasional.
Di samping kualitas SDM yang rendah juga disebabkan di beberapa daerah di Indonesia masih kekurangan guru, dan ini perlu segera diantisipasi. Tabel 1. berikut menjelaskan tentang kekurangan guru, untuk tingkat TK, SD, SMP dan SMU maupun SMK untuk tahun 2004 dan 2005. Total kita masih membutuhkan sekitar 218.000 guru tambahan, dan ini menjadi tugas utama dari lembaga pendidikan keguruan.
Dalam menghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia dengan latar belakang pendidikan formal yang baik, tetapi juga diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai latar belakang pendidikan non formal.
2.3  Penyesuaian Pendidikan Indonesia di Era Globalisasi
Dari beberapa takaran dan ukuran dunia pendidikan kita belum siap menghadapi globalisasi. Belum siap tidak berarti bangsa kita akan hanyut begitu saja dalam arus global tersebut. Kita harus menyadari bahwa Indonesia masih dalam masa transisi dan memiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan peran dalam globalisasi khususnya pada konteks regional. Inilah salah satu tantangan dunia pendidikan kita yaitu menghasilkan SDM yang kompetitif dan tangguh. Kedua, dunia pendidikan kita menghadapi banyak kendala dan tantangan. Namun dari uraian di atas, kita optimis bahwa masih ada peluang.
Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalam pendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian dari pendidikan formal anak di sekolah. Kesadaran yang tumbuh bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak akan membuat kita lebih hati-hati untuk tidak mudah melemparkan kesalahan dunia pendidikan nasional kepada otoritas dan sektor-sektor lain dalam masyarakat, karena mendidik itu ternyata tidak mudah dan harus lintas sektoral. Semakin besar kuantitas individu dan keluarga yang menyadari urgensi peranan keluarga ini, kemudian mereka membentuk jaringan yang lebih luas untuk membangun sinergi, maka semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsa kita sehingga mampu bersaing di atas gelombang globalisasi ini.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan jaya sebagai pemenang dalam globalisasi.
    BAB III
      PENUTUP
    
    3.1 Kesimpulan
                Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia
    Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
    Pengajaran Interaktif Multimedia
    Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan computer.
    Perubahan Corak Pendidikan, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan.
    Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
    Komersialisasi Pendidikan
                Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan.
    Bahaya Dunia Maya
                Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet.
    Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi di indonesia adalah Mahalnya Biaya Pendidikan, Kualitas SDM yang Rendah dan fasilitas pendidikan ang kurang, itu yang mengakibatkan pendidikan tidak berjalan dengan lancar
    Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu
    
    3.2 Saran
    Penulis memberikan saran yang ditujukan untuk
    a.       Masyarakat
    agar para orang tua memperhatikan kepentingan anaknya dalam hal pendidikan sehingga pendidikan berjalan dengan lancar
    b.      Pemerintah
    Pemerintah harus menggarkan danan yang cukup untuk keperluan pendidikan dan menambah beasiswa bagi guru untuk training
    DAFTAR PUSTAKA
    Asri B. 2008.  Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta.
    Faizah, F. 2009.  Dampak Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan, (Online), (http://www.blogger.com/profile/14458280955885383127), diakses 18 Oktober 2011.
    Munir.  2010.  Pendidikan Karakter. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Maqdani, Anggota IKPI.
    Surya,  M. 2002.  Dasar-dasar Kependidikan di SD. Pusat penerbitan Universitas Terbuka. Suryabrata, S. 2010. Psikologi Kepribadian.  Jakarta: Rajawali Pers.
    Januar, I. 2006. Globalisasi pendidikan dI indonesia, (Online),                     (www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=mygroup&gid=340151), diakses 18                   Oktober  2011.
    Wardoyo, C. 2007. Urgensi Pendidikan Moral (Online), (http://www.nu.or.i) diakses 18 oktober              2011.